Jangan mudah berasumsi

Hidupku unik. Kau bilang aku mencintaimu padahal tak sekalipun kau mendengar kata itu keluar dari lisanku. Dilain waktu kau bilang aku menjauhimu hanya karena tak sempat aku menjawab pesan singkatmu yang terbunuh kesibukanku. Kau juga bilang aku membencimu hanya karena menolak ajakan jalanmu. Untukmu, berhentilah membuat anggapan. Yang nantinya bisa membuatmu terhunus kenyataan.

Aku menulis sajak kenangan bukan berarti aku belum bisa melupakan. Aku menulis kata cinta bukan berarti aku sedang di mabuk asmara. Manusia jaman sekarang lebih suka menyimpulkan tanpa pernah sekalipun mencoba menanyakan kebenaran. Mencoba mengurai apa yang kurasa dari kata yang dia baca. Memaksaku untuk mengiyakan argumentasi yang dia upayakan.

Barangkali tulisan ini bisa sedikit menggambarkan. Kenapa hidupku penuh dengan tulisan kegalauan. Aku menyukai tulisan tentang percintaan. Kehilangan, kenangan, kegalauan, adalah kata menarik untuk dikembangkan. Bagiku kata-kata adalah keindahan. Mau terlihat menyakitkan ataupun menyenangkan, tetap sama. Semuanya hanya tentang keindahan kata-kata.

Disisi lainnya. Aku punya cinta yang tak pernah ku unggah di sosial media. Aku punya rindu yang tak pernah ku tulis namamu di kolom captionku. Aku punya perasaan yang tak perlu orang lain tau bahwa aku telah benar benar melupakan. Aku tak bermaksud menyembunyikan karena nantinya juga pasti ketahuan. Tapi setidaknya biarlah semua ini menjadi konsumsi pribadi karena sebaik apapun hubungan yang diumbar, pasti ada benih benih benci yang tertebar.

Untuk kesayanganku. Beginilah caraku mencintaimu. Bukan berarti aku tak bangga memilikimu, aku hanya tak ingin memamerkan mu. Jika kau tak menyukai caraku, silahkan mundur dan pergi melangkahkan kaki. Dan sebaliknya jika kau menyukai caraku, kita lanjutkan hubungan ini. Kita ciptakan kebahagiaan kita tanpa pernah terintimidasi anggapan dari orang lain.

Iklan

Subbab kebahagiaan

Semesta berkuasa

Menyandingkan kita dalam satu perjumpaan

Sebelum kita saling bertegur sapa

Tatapan mata begitu dalam menyiratkan makna

Kita lantas berbincang hangat

Seolah rasa ini sudah terlanjur dalam melekat

Dunia kita lagi lagi berlawanan

Aku dengan kecintaanku pada alam

Kamu dengan kecintaanmu pada kemewahan

Mereka bilang

Manusia diciptakan untuk saling melengkapi

Begitu juga kita

Dengan segala perbedaan dan passion kita

Tercipta untuk saling mengisi dan memahami

Perihal kelanjutan hubungan ini

Jalani saja demikian

Jika nantinya kita dipersatukan

Kuharap kamu menerima segala kekurangan

Dan jika nantinya kita ditakdirkan hanya sebagai teman

Camkan satu hal, mengenalmu adalah salah satu subbab kebahagiaan

-Banyumas, Januari 2018

Karena kita

Karena kita

Karena kita belum benar benar usai

Masih ada secercah rasa yang tersimpan rapi. Menunggu ia meledak ketika kita larut dalam rasa sepi


Karena kita sudah selayaknya saling mengerti

Aku mengerti kamu yang mengerti aku

Dan kamu mengerti aku yang mengerti kamu


Karena kita sudah seharusnya mereda ego

Egoku yang terlalu takut memperjuangkanmu

Dan egomu yang terlalu takut kehilangan diriku


Karena kini telah tiba masanya 

Telah tiba saatnya kita jujur pada perasaan ini

Kamu yang belum bisa melupakan aku seutuhnya

Dan aku yang masih mengharapkanmu sepenuhnya


Cilacap, Januari 2018

Kenapa kita harus seasing ini?

Kita kembali berjumpa. Bukan sebagai dua orang yang saling cinta. Namun hanya sebagai sepasang kawan lama. Segalanya telah berubah.  Kau datang dengan senyum tanpa beban. Sedang aku datang dengan kerinduan dan sebaris kenangan. 

Satu hal yang kupertanyakan. Mengapa kita kini seolah menjadi saling tak mengenal? Menjadi pribadi asing diantara kata kita. Merasa canggung untuk mengawali perkataan. Hingga akhirnya dua jam kita membisu tanpa sekalipun ada pembicaraan.

Kau tak sepenuhnya salah. Salahkan saja diriku. Semua ini takkan terjadi jika aku tak membuka hati padamu. Semua ini takkan terjadi jika aku tak melepasmu kala itu. Dan semua ini takkan menjadi nyata, jika aku tak terlampau jauh dalam menggunakan kata cinta. 

Hidup memang demikian. Di setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Adanya perpisahan tak kan menutup kemungkinan perjumpaan selanjutnya. Dan kini kita kembali bertemu. Bukan lagi tentang kita. Melainkan tentang aku dan kamu yang baru. Dengan segala kecanggungan dan kekakuan diantara kita, aku tak perlu menyesalinya. Karena kini kita tak lebih dari dua orang asing yang kembali semesta pertemukan dengan sejuta kenangan.
Desember, 2017


Maaf

Untukmu yang nyaris kuperjuangkan

Sudahi saja

Simpan baik baik rasa sayangmu

Semoga kau lekas menjumpai

Sosok terindah yang akan mewarnai

Tak bisa dipungkiri

Tak perlu disesali

Sekuat apapun kau mengelak

Semua akan tertuju pada kenyataan

Kita sama sama meragu

Aku dengan rasaku, kau dengan cintaku

Jangan sia siakan waktu untuk menyayangiku

Kau berhak bahagia, begitu pula aku 

Pantas untuk ditinggalkan


Cilacap, Januari 2018

Desember

Desember segera berakhir. Tahun yang begitu luar biasa akan segera berganti. Ego memang selalu mengganjalku untuk bersyukur atas segala yang Engkau limpahkan padaku. Namun didalam hatiku yang terdalam, sungguh aku sangat berterima kasih padamu ya Allah. Engkau begitu baik melancarkan perjalanan hambamu. Meski hambamu ini begitu jauh dari kata sempurna. 

Berbagai tahap telah terlewati di tahun yang penuh warna ini. Begitu cepat usai meski terasa baru kemarin kita mengawali tahun ini dengan sejuta tanya. Bersyukur. Lagi lagi aku tertampar dengan kata itu. Allah telah memudahkan jalanku. Allah telah melancarkan segala rencana ku. Segala yang ku tanam sekarang mulai ku tuai. Tapi tetap, Allah masih saja membolak-balik hati ini. Hanya untuk mengucap syukur terkadang aku masih enggan. Merasakan keberadaannya saja aku masih ragu. Meyakini janji-Nya saja aku masih juga tak sepenuhnya percaya. 

Kurang apa coba? Kurang baik apa. Aku bahkan hari ini ataupun besok masih menikmati kehangatan rumah. Berbeda dengan mereka teman teman baikku. Ketika melihat mereka yang memulai perjalanan menuju kantornya, aku tertampar sekali lagi. Mereka sudah harus berpisah lagi dengan kehangatan rumah. Sedang aku disini masih bisa menikmati masakan ibu yang selalu disisipi doa dan cinta. 

Aku bukanlah seseorang yang bisa terang terangan mengucap syukur. Aku adalah aku. Dengan sejuta ego yang menaungiku. Aku bukanlah seseorang yang bisa seketika bersujud mengucap syukur pada-Nya. Tapi tak pernah lupa sehabis ibadahku, selalu kupanjatkan rasa syukur ku pada-Nya.

Mengabdi pada negara adalah suatu kehormatan. Dimana pun kita ditempatkan tak bisa dijadikan alasan seberapa ikhlas kita melakukan pelayanan. Tapi bolehkah kuminta satu hal? Tempatkan aku didekat kedua orang tuaku berada, karena aku tak ingin meninggalkannya lebih jauh untuk kedua kalinya. 

Awal sebuah akhir

Semua belum berakhir . 

Perihal pelarian yang kukira telah usai, mengakhirkan sesuatu yang semestinya belum berakhir sama saja mempersulit diri. Kisah yang harusnya tertinggal di berbagai tempat pelarian. Ternyata dengan mudahnya menempel lagi menemaniku selama perjalanan. Padahal 2 bulan lalu gunung Prau sudah kujadikan pelarian terakhir, namun hingga perjalananku ke gunung andong kemarin, ingatan tentangmu belum mampu ku buang seutuhnya.

Semua belum berakhir . . 

Perihal pencarian ku akan sosok pengganti, mencari yang seperti dirimu sangatlah sulit. Berkali kali kupaksakan menyamakannya dengan dirimu hingga akhirnya berujung rasa sakit. Sungguh. Bukan ini yang ku mau. Mungkin memang sudah seharusnya aku menerima yang baru. Tak harus sama dengan dirimu. Setidaknya jangan sampai dia menyakitiku seperti yang kau lakukan waktu itu. 

Semua belum berakhir . . .

Setelah kehilanganmu, perasaanku belumlah mati. Masih banyak yang bisa kuperbuat untuk menyenangkan diri. Tak harus dengan materi. Tak juga dengan dicintai. Sungguh aku masih bisa bahagia dengan luka dan duka yang telah kau beri.

Semua belum berakhir . . . .

Perjalanan ini baru dimulai. Cinta yang kukejar takkan pernah usai. Denganmu ataupun yang lain. Dan malam ini. Magelang adalah saksi. Bagaimana aku mengubah pelarian ku menjadi sebuah perjalanan. Karena aku telah ada di jalur yang benar tanpa perlu berlari lagi. Kukejar semuanya dengan perlahan. Karena jujur, ambisiku akan dirimu sedikit demi dikit telah menghilang. Seperti yang kubilang. Disetiap perjalanan pasti selalu diiringi dengan kisah. Dan disini. Tempat ini mengajarkanku bahwa. Magelang,  segala cinta dan luka yang telah lalu, tak akan mungkin kembali terulang. 
Magelang, 31/10/17