Instagram

Siapapun kamu, saya ucapkan terima kasih. Berkat kamu saya sadar bahwa saya perlu membuat tulisan baru. Mungkin besok kamu akan membacanya. Mungkin juga tidak. Manusia memang gemar berandai-andai. Sekalipun itu hanya untuk menyenangkan nafsunya. Tapi tak apa, dibaca ataupun tidak. Saya akan tetap menuliskannya untukmu. Maaf, maksud saya. Saya akan tetap mengetiknya untukmu.

Ada beberapa sebab kenapa saya mengurangi intensitas dalam memposting sesuatu di Instagram. Saya hanya merasa setiap postingan saya hanya akan membuang buang waktu saya. Contoh hal saya punya keinginan untuk mengupdate kegiatan terbaru saya. Hal yang paling mendasar ialah memikirkan “apasih caption yang pas”. Sungguh sangat membuang buang waktu. Belum lagi ketika sudah terupdate. Maka akan serajin mungkin tangan saya mengecek postingan. “Doi udah like belum yaa”. Ya bego juga sih. Doi aja gapunya instagram, gimana dia mau like hehehe. “Kan doi gue ga cuma satu”. Ah dasar muka bawahan wajan aja sok playboy hahaha.

Yang kedua, mengupdate sesuatu pasti akan menimbulkan prasangka. Bisa berupa khusnudzon atau bisa juga berupa suudzon. Contoh hal jika saya mengupdate foto sedang nongkrong dengan teman teman saya. Disatu sisi pasti akan ada yang bilang “eh si bayu ini nongkrong dimana ya, bagus tempatnya, jadi pengen”. Itu sisi baiknya tanpa sengaja saya mempromosikan suatu tempat. Tapi disisi lain pasti ada juga yang bilang “Halah nih anak nongkrong ga jelas, mentang mentang udah punya duit, mending ikut majelis taklim dasar boros”. Emang lu tau majelis taklim? “Kagaaaa”. Nah kan. Saya hanya tidak ingin teman teman saya memandang saya lain. Yang malah membuat mereka membicarakan keburukan saya.

Yang ketiga. Saya hanya ingin menjadi orang normal. Saya ingin menjalani kehidupan tanpa nyinyiran orang lain. Saya ingin melakukan sesuatu yang membuat saya senang tanpa harus menyakiti orang lain. Saya makan mewah toh mereka ngga tau. Saya sakit, toh orang yang ngga suka sama saya juga ngga tahu. Saya Hedon, toh lambe lambe itu ngga pernah ngomongin saya. Lah orang saya ngga pernah ngasih tau mereka, mana mungkin mereka tau.

Namun dibalik itu semua satu hal utama yang saya hindari dari memposting sesuatu adalah pamer. Karena tanpa disadari kebanyakan sekarang Instagram telah berevolusi menjadi ajang pamer. Bukan bermaksud menggurui namun sekadar berbagi saja. Manusia sangat ingin terlihat tinggi derajatnya dibanding yang lain. Manusia juga sangat mudah diatur sama hawa nafsunya. Tiap hari makan mewah di-posting. Tiap hari jalan jalan di-posting. Dapet duit banyak langsung beli barang mewah di-posting. Selain kepuasan apa lagi sih yang di dapat dari semua hal yang dipamerkan. Kepuasan atas hawa nafsunya terutama. Mereka hanya ingin mendapat pengakuan.

“Saya kaya loh” ,

“saya punya hp baru loh” ,

“saya ganteng loh”,

“saya makan mewah loh” ,

“saya . . . Saya . . . Saya. . . Saya banci loh”. Ehhhh.

Sudah sampai sini saja ya. Makin lama makin ga jelas tulisan saya. Eh emang dasarnya ga jelas sih. Maafkan, salah sendiri kamu maksa saya nulis. Hehehe.

Intinya gini aja sih. Saya jarang posting di Instagram bukan berarti saya mau menghilang dari Instagram. Setiap orang pasti punya titik jenuh kan? Nah saya sedang jenuh akan pengakuan orang lain. Makanya saya jarang posting Instagram. Jika kamu tipe orang yang kalau ingin menanyakan kabar harus lewat perantara postingan saya. Maka saya sarankan, sudah langsung saja. Chat whatssap saya. Kalau masih belum mau juga Ya sudah akan saya beri tahu. Keadaan saya baik Alhamdulillah. Hidup saya masih menyenangkan. Saya jomblo. Tapi saya punya gebetan. Dia kuliah di Semarang katanya taun ini mau wisuda. Doakan ya biar saya dan dia bisa bersama hehe. Tapi tenang, masih ada kesempatan buat kamu untuk dekat dengan saya. Tak usah khawatir, saya orangnya gampang akrab. Pasti orang tuamu suka. Baik kan saya. Tanpa kamu tanya, sudah saya jawab.

Salam Hangat

-Bayu Abi Mulyantara

Catatan : Ada goresan dari sudut pandang lain. Dari penggemar senyum cut beby tsabina yang sudah biasa menjadi obat namun hati tak mau terikat. http://chelseavenda.blogspot.co.id/2018/05/saya-menulis-di-instagram-karena-saya.html?m=1

Iklan

Fana

Dingin menusuk raga

Menyuruhku memelukmu seketika

Raga lebih membeku

Saat ku tahu pelukanmu hanyalah balasan semu

Kau bilang rindu

Namun pesan dariku slalu kau anggap angin lalu

Kau kata cinta ini seputih kertas

Tapi diriku tak pernah kau jadikan prioritas

Kau lebih dari sekadar apa

Tapi aku bukanlah siapa siapa

Fana

Kau menjelma sebagai alasan

Berhenti menempa diri dengan angan angan

Dan kau menjelma sebagai penyebab

Kenapa mata ini jadi semakin sembab

Puncak dan ego yang membara (last)

Kami melanjutkan perjalanan hingga kami sampai di pos 6 dan memutuskan mendirikan tenda. Lokasi begitu nyaman. Tepat di lembah yang dikelilingi hutan Pinus. Suasana sedikit ramai. Terdengar obrolan pendaki dari jalur pendakian Bambangan. Terlihat pula warung di pos 5 jalur Slamet via Bambangan dari tempat kami mendirikan tenda.

Keesokan harinya tepat pukul setengah 4 pagi. Kami melakukan summits attack. Hanya dengan membawa tas kecil. Perbekalan roti secukupnya dan sebotol air mineral menemani kami sepanjang perjalanan. Di pos 7 kami melaksanakan shalat subuh. Sembari berdoa diberi keselamatan agar sampai di puncak.

Perjalanan mulai terasa sangat berat ketika kami mulai memasuki lereng medan kerikil berbatu. Dengan sudut kemiringan mencapai 60 derajat pendakian ini baru saja di mulai. Terkadang kami perlu merangkak dan berhati hati dalam memijak. Sebab terpeleset adalah keniscayaan. Terjatuh adalah keharusan. Kurang lebih 2 jam kami merangkak dan menjejak. Sampailah kami di puncak. Disini angin begitu kencang. Dingin begitu mengguncang. Jaket pun tak mampu menghangatkan badan. Asap dari kawah meluncur ke arah berlawanan. Membuat puncak itu terasa begitu aman. Kami menikmati keindahan alam. Mengucap syukur pada sang pencipta. Berharap semua ini takkan berakhir begitu saja.

Perjalanan menuju puncak bukanlah hal yang mudah. Butuh perjuangan dan keinginan yang kuat untuk tetap bertahan. Menyerah adalah sebuah pilihan. Namun ego untuk berdiri di puncak mengalahkan semua rasa lelah. Semua itu tak layak dilakukan. Bukan semata tentang keselamatan, namun juga tentang pertimbangan alam dan kesehatan. Puncak tak pernah pergi. Dia tetap tegak berdiri. Kapanpun kau datang, dia akan tetap menyambut tenang. Dan kapanpun kau pulang, dia akan melepas dengan senyum ketenangan.

Lautan awan kembali menjadi saksi. Aku yang masih tegak berdiri, dan kau yang berlari tanpa henti.

Lautan awan kembali menjadi kilasan. Aku yang masih bertahan, dan kau yang memutuskan meninggalkan.

Lautan awan tak lagi terlihat sama. Aku disini sekadar pura, dan kau disana bahagia bersamanya.

Puncak dan ego yang membara 2

Kami memutuskan menerobos hujan. Memakai jas hujan sebagai perlindungan. Melawan hawa dingin yang menusuk di badan. Kami tiba di basecamp dan segera beristirahat. Mengingat besok perjalanan akan begitu sangat berat. Pagi datang menjelang. Diawali mentari yang begitu menghangatkan. Segera kami mempersiapkan diri. Perut terisi, perlengkapan tertata rapi. Kami bergegas melangkahkan kaki.

Perjalanan ini terawali dengan begitu mudah. Menyusuri jalan setapak dan beberapa rumah. Hingga melewati ladang dan masuk ke hutan. Langkah kaki mulai terasa berat ketika jalur mulai menanjak. Nafas kian terengah-engah hingga kamipun seringkali memutuskan beristirahat. Kami sampai di pos 1 setelah menempuh satu jam perjalanan. Perjuangan baru dimulai kali ini. Selepas melewati ladang ilalang. Jalur mulai menanjak penuh. Semak belukar menutupi jalur pendakian. Pos 2 baru terlihat setelah dua jam kami berjalan. Kami beristirahat sejenak. Dan kemudian kembali kami beranjak.

Ditengah perjalanan. Perut kami memberontak. Hingga kami memutuskan untuk memasak. Sederhana sekali. Hanya kupat dengan ikan kemasan. Namun cukup untuk memenuhi rintihan perut kami. Kami kembali bergerak. Mengingat waktu sudah semakin siang. Jalur semakin menanjak, kepala semakin sering menunduk dan mendongak. Menunduk untuk menghindari pohon yang melintang. Dan mendongak untuk meratapi jalur yang akhirnya tak kunjung tampak. Kami sampai di pos 3 dan bergegas menuju mata air. Disana kami berwudhu dan melaksanakan ibadah, karena sudah menunjukan waktu Dzuhur.

Miris sekali. Ketika kebanyakan pendaki yang katanya ingin mendekatkan diri pada sang pencipta malah sering melalaikan ibadahnya ketika mendaki. Setiap langkahmu adalah kebaikan. Selama kamu tetap beribadah selama melangkah. Insyaallah perjalananmu akan berjalan mudah. Ditempat yang baru kamu kunjungi, tuhanmu akan selalu melindungimu. Itupun jika kamu ingat dengan ibadahmu. Disini kami bukan bermaksud menggurui. Jujur saja, khususnya saya. Ilmu agama saya belum sepandai kalian. Namun bagi saya. Jika saya belum mampu menjalankan sunnah. Setidaknya saya tidak melalaikan kewajiban saya. Jangan sampai pendakian membuatmu melalaikan kewajiban.

. . .

Puncak dan ego yang membara (1)

Setiap orang pasti punya karakter bukan? Baik itu positif maupun negatif tergantung pula sudut pandang orang yang melihatnya. Seperti halnya saya. Idealis dan ego selalu menguasai saya. Ketika sudah membuat rencana. Haram hukumnya untuk membatalkan. Sekalipun terbatalkan. Konsekuensinya jelas. Hubungan saya dengan sang pembuat janji rencana tak akan sama lagi. Saya bukanlah tipe seseorang yang pemarah. Saya hanyalah tipe seseorang yang menginginkan action dari apa yang mereka ucapkan.

Gunung Slamet sudah menjadi obsesi saya sejak tahun baru kemarin. Semua persiapan sudah saha lakukan sejak awal. Mulai dari mencari kawan pendakian. Membeli peralatan. Hingga berlatih fisik menjelang hari pendakian. Namun nyatanya halangan demi halangan selalu ada. Mulai dari teman yang ngga jadi ikut. Oke fine. Saya paling benci dengan tipe orang yang jika tidak diajak dia bilang “ga ajak ajak” nah pas diajak dia bilang aku ngga bisa ikut. Bulshit fuck you. Hujan juga semakin sering turun hingga kedua rekan saya ragu untuk meneruskan rencana pendakian. Bahkan hingga h-1 hanya satu rekan saya yang fix siap melakukan pendakian. Sudah saya putuskan. Dan ego saya sangat berperan disini. Hari h pendakian. Harus tetap berangkat. Sekalipun saya berangkat sendiri. Tak peduli dengan rencana bullshit itu.

Untungnya hari esok cuaca cukup bersahabat hingga kami berempat akhirnya siap melakukan pendakian. Kami segera berbenah dan menentukan titik kumpul di rumah salah satu rekan kami. Semua berjalan lancar dan normal hingga di perjalanan kami dihadang hujan badai dan petir. Kami berteduh di sebuah warung dan memutuskan makan sore sekalian. Cuaca tak kunjung bersahabat sore itu. Padahal pagi dan siang tadi cahaya mentari masih cukup terik menyinari.
. . . .

Satu hal pasti. Saya bukan pendaki. Saya hanya menjadikan gunung sebagai wujud saya dalam mencintai negeri ini. Disetiap pendakian selalu tumbuh rasa cinta saya pada negeri ini. Berjalanlah disampingku. Akan ku tunjukkan bagaimana caraku mencintai negeri ini dan mencintaimu.

Jangan mudah berasumsi

Hidupku unik. Kau bilang aku mencintaimu padahal tak sekalipun kau mendengar kata itu keluar dari lisanku. Dilain waktu kau bilang aku menjauhimu hanya karena tak sempat aku menjawab pesan singkatmu yang terbunuh kesibukanku. Kau juga bilang aku membencimu hanya karena menolak ajakan jalanmu. Untukmu, berhentilah membuat anggapan. Yang nantinya bisa membuatmu terhunus kenyataan.

Aku menulis sajak kenangan bukan berarti aku belum bisa melupakan. Aku menulis kata cinta bukan berarti aku sedang di mabuk asmara. Manusia jaman sekarang lebih suka menyimpulkan tanpa pernah sekalipun mencoba menanyakan kebenaran. Mencoba mengurai apa yang kurasa dari kata yang dia baca. Memaksaku untuk mengiyakan argumentasi yang dia upayakan.

Barangkali tulisan ini bisa sedikit menggambarkan. Kenapa hidupku penuh dengan tulisan kegalauan. Aku menyukai tulisan tentang percintaan. Kehilangan, kenangan, kegalauan, adalah kata menarik untuk dikembangkan. Bagiku kata-kata adalah keindahan. Mau terlihat menyakitkan ataupun menyenangkan, tetap sama. Semuanya hanya tentang keindahan kata-kata.

Disisi lainnya. Aku punya cinta yang tak pernah ku unggah di sosial media. Aku punya rindu yang tak pernah ku tulis namamu di kolom captionku. Aku punya perasaan yang tak perlu orang lain tau bahwa aku telah benar benar melupakan. Aku tak bermaksud menyembunyikan karena nantinya juga pasti ketahuan. Tapi setidaknya biarlah semua ini menjadi konsumsi pribadi karena sebaik apapun hubungan yang diumbar, pasti ada benih benih benci yang tertebar.

Untuk kesayanganku. Beginilah caraku mencintaimu. Bukan berarti aku tak bangga memilikimu, aku hanya tak ingin memamerkan mu. Jika kau tak menyukai caraku, silahkan mundur dan pergi melangkahkan kaki. Dan sebaliknya jika kau menyukai caraku, kita lanjutkan hubungan ini. Kita ciptakan kebahagiaan kita tanpa pernah terintimidasi anggapan dari orang lain.

Subbab kebahagiaan

Semesta berkuasa

Menyandingkan kita dalam satu perjumpaan

Sebelum kita saling bertegur sapa

Tatapan mata begitu dalam menyiratkan makna

Kita lantas berbincang hangat

Seolah rasa ini sudah terlanjur dalam melekat

Dunia kita lagi lagi berlawanan

Aku dengan kecintaanku pada alam

Kamu dengan kecintaanmu pada kemewahan

Mereka bilang

Manusia diciptakan untuk saling melengkapi

Begitu juga kita

Dengan segala perbedaan dan passion kita

Tercipta untuk saling mengisi dan memahami

Perihal kelanjutan hubungan ini

Jalani saja demikian

Jika nantinya kita dipersatukan

Kuharap kamu menerima segala kekurangan

Dan jika nantinya kita ditakdirkan hanya sebagai teman

Camkan satu hal, mengenalmu adalah salah satu subbab kebahagiaan

-Banyumas, Januari 2018