Kesimpulannya?

Berbahagialah. Terutama untukmu yang tak lagi kumiliki. Dulu aku selalu mendoakan agar kau selalu bahagia. Namun perihal dengan siapa kau akan bahagia, aku lupa. Aku lupa menitipkan namaku pada sang pencipta. Hingga akhirnya Tuhan membuatmu bahagia dengan perantaranya. Dan yang kutahu perantara itu bukan lagi tertulis namaku.

Tersenyumlah. Hati yang larut dalam duka. Mengikhlaskan kepergian mu bukanlah hal yang mudah. Semakin aku memaksa melupakan. Semakin dalam luka yang tertancap dalam wujud kenangan. Jadi tersenyumlah. Sambut mereka yang membantu membereskan luka. Buka hati pada mereka yang menyebarkan tawa. Karena diriku sangat pantas untuk berbahagia.

Rayakanlah. Kehilanganku akan sosok dirimu sangat pantas untuk dirayakan. Untuk apa larut dalam kesedihan demi orang yang hanya menjadikanku sebuah pilihan. Dibalik sajak sendu yang selalu kutuliskan, ada bahagia yang sedang kuperjuangkan. Meskipun kehilanganmu sempat menumbuhkan luka. Namun kepergianmu semakin mempermudah untukku kembali tertawa. 

Satu satunya hal yang bisa kubuat hanyalah introspeksi  diri. Untuk apa terlihat bahagia tapi menyakiti diri sendiri. Nyatanya aku memang lebih banyak menyakiti dibanding tersakiti. Lebih banyak mengecewakan dibanding dikecewakan. Ketika aku telah siap untuk mencintai, tapi ilmu baru yang kudapat sangat sulit ku khianati. Keyakinanku tak lagi bisa kusepelekan. Tentang pacaran yang jelas jelas dilarang, dan aku yang belum siap jika harus ke pernikahan. Jadi maaf untukmu yang tak kunjung aku resmikan. Karena demi keyakinanku, aku tak mungkin sanggup untuk melanjutkan.

Wa laa taqrobuz zina innahu kana fahisyah, wa sa’a sabila – Janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk.” (Qs. Al-Israa’ {17}:32

Iklan