Ketika kopi dan kawan kawannya tak mampu meredakan kegelisahanku, lantas?

Merbabu 3142 MDPL. Sebuah perjalanan yang bisa dikatakan begitu nekat. Alhamdulillah aku dianggap kuat oleh tuhan, olehnya aku diberi kepercayaan menanggung beban yang tak pernah kusangka dan kuduga. Sebuah kilasan masa kecil yang ternyata terjadi lagi. Meski bukan sepenuhnya disebabkan oleh kesalahanku, namun bisa jadi ini peringatan sekaligus pantangan bagiku dalam melangkah. Terutama kedepannya dalam memilih pasangan.

Kembali lagi terkait perjalanan yang cenderung dipaksakan. Semua bermula ketika kopi dan kawan kawannya tak mampu meredakan kegelisahan. Bahkan suara takbir yang berkumandang tak mampu meredakan tangisan. Hati ini tak henti hentinya menangis, sedang mata dan rupa ini membendungnya dengan senyum yang dipaksakan. Bisikan mengantarkanku menuju sabana merbabu. Memanggilku sehabis sujudku malam itu. Dan akhirnya kerinduan akan alam memantik jiwa ini untuk melakukan perjalanan. Mencari kembali arah yang sempat punah, selepas rumah yang kuidamkan hilang tak tentu arah.

Tangisku pecah di sabana satu. Mimpi itu, ya mimpi itu. Di dalam tenda sehabis terbangun dari mimpi. Sebuah petunjuk dimana aku kembali menemukan arti dari sebuah pelukan. Menyadarkanku akan kesalahan selepas lari dari masalah. Seolah merasa akulah yang paling lemah sedang nyatanya ada yang lebih hancur dan kecewa dibandingkan diriku. Dia memang sekeras baja. Idealismenya sangat luar biasa. Namun siapa sangka dia bisa begitu rapuh. Dan aku merasakan kerapuhannya, waktu itu.

Aku beranjak keluar tenda. Sejenak menatap lautan bintang yang saling memandang. Angin berlarian dengan sangat kencang. Menimbulkan gesekan di telinga dan menyisakan bekas dingin yang menyiksa. Tubuh ini tak mampu bertahan lebih lama lagi di luar tenda. Seakan menandakan merbabu tak mau menerimaku yang tengah berputus asa. Tak ada yang tahu, tak ada pula yang mengerti. Tentang alasan kepergianku yang begitu mendadak. Hingga nantinya semua akan memahami bahwa, setiap individu punya cara tersendiri dalam menyelesaikan suatu masalah. Lebih tepatnya menghindar sebentar dari masalah yang menimpa.

Gunung adalah jalan pulang, ketika arah yang kau tuju tiba tiba menghilang. Berbaliklah, angkat kedua tanganmu sehabis salam dan dzikirmu. Berdoalah layaknya hamba yang sangat lemah. Dan bila nyatanya tuhanmu memberimu petunjuk untuk mendekat kepadanya, datangilah. Puluhan puncak masih menunggu injakan kakimu. Menanti caramu mengalahkan ego dalam perjalanan. Dan ujungnya hanya untuk menyadarkanmu, sejauh jauhnya engkau mencari jalan pulang. Semua akan kembali ke rumah. Rumah bukan dalam artian tempat, namun rumah dalam artian pelukan orang orang tersayang.

Salam hangat

Bayu Abi Mulyantara

Iklan

Lemah

Segala hal yang terjadi memang penuh ketidakpastian bukan? Bisa jadi hasil dari perbuatan kita atau malah jadi semata-mata skenario yang maha kuasa. Begitu pula rasa yang telah terpendam lama, bisa pula seketika muncul di waktu yang tak terduga.

Ku akui aku memang lemah. Denganmu aku kembali menemukan arah. Denganmu aku mampu jatuh sejatuh jatuhnya. Tapi aku tak mau terlalu berharap lagi. Meskipun jika kau mau, aku tak mungkin sanggup membohongi diri.

Kita sudah sama sama dewasa. Segala hal yang telah lalu tak perlu diungkit dan diangkat lagi. Mengulang memang tak semudah mengawali. Kita hanya perlu melangkah bersama. Seolah kita tak pernah berbeda arah.

Sayangnya kau melewatkan tulisan ini hari ini. Mungkin besok atau lusa atau kapanpun semoga saja kau membaca, jika diizinkan apakah boleh? Apakah mungkin? Jika iya aku sangat berterima kasih. Kalaupun tidak kau tak perlu meminta maaf. Karena aku yakin, segala pilihanmu adalah yang terbaik. Terlepas itu hanya baik untukmu dan tidak bagiku.

Btw, waalaikumussalam wr wb.

Salam hangat

Bayu abi mulyantara

Instagram

Siapapun kamu, saya ucapkan terima kasih. Berkat kamu saya sadar bahwa saya perlu membuat tulisan baru. Mungkin besok kamu akan membacanya. Mungkin juga tidak. Manusia memang gemar berandai-andai. Sekalipun itu hanya untuk menyenangkan nafsunya. Tapi tak apa, dibaca ataupun tidak. Saya akan tetap menuliskannya untukmu. Maaf, maksud saya. Saya akan tetap mengetiknya untukmu.

Ada beberapa sebab kenapa saya mengurangi intensitas dalam memposting sesuatu di Instagram. Saya hanya merasa setiap postingan saya hanya akan membuang buang waktu saya. Contoh hal saya punya keinginan untuk mengupdate kegiatan terbaru saya. Hal yang paling mendasar ialah memikirkan “apasih caption yang pas”. Sungguh sangat membuang buang waktu. Belum lagi ketika sudah terupdate. Maka akan serajin mungkin tangan saya mengecek postingan. “Doi udah like belum yaa”. Ya bego juga sih. Doi aja gapunya instagram, gimana dia mau like hehehe. “Kan doi gue ga cuma satu”. Ah dasar muka bawahan wajan aja sok playboy hahaha.

Yang kedua, mengupdate sesuatu pasti akan menimbulkan prasangka. Bisa berupa khusnudzon atau bisa juga berupa suudzon. Contoh hal jika saya mengupdate foto sedang nongkrong dengan teman teman saya. Disatu sisi pasti akan ada yang bilang “eh si bayu ini nongkrong dimana ya, bagus tempatnya, jadi pengen”. Itu sisi baiknya tanpa sengaja saya mempromosikan suatu tempat. Tapi disisi lain pasti ada juga yang bilang “Halah nih anak nongkrong ga jelas, mentang mentang udah punya duit, mending ikut majelis taklim dasar boros”. Emang lu tau majelis taklim? “Kagaaaa”. Nah kan. Saya hanya tidak ingin teman teman saya memandang saya lain. Yang malah membuat mereka membicarakan keburukan saya.

Yang ketiga. Saya hanya ingin menjadi orang normal. Saya ingin menjalani kehidupan tanpa nyinyiran orang lain. Saya ingin melakukan sesuatu yang membuat saya senang tanpa harus menyakiti orang lain. Saya makan mewah toh mereka ngga tau. Saya sakit, toh orang yang ngga suka sama saya juga ngga tahu. Saya Hedon, toh lambe lambe itu ngga pernah ngomongin saya. Lah orang saya ngga pernah ngasih tau mereka, mana mungkin mereka tau.

Namun dibalik itu semua satu hal utama yang saya hindari dari memposting sesuatu adalah pamer. Karena tanpa disadari kebanyakan sekarang Instagram telah berevolusi menjadi ajang pamer. Bukan bermaksud menggurui namun sekadar berbagi saja. Manusia sangat ingin terlihat tinggi derajatnya dibanding yang lain. Manusia juga sangat mudah diatur sama hawa nafsunya. Tiap hari makan mewah di-posting. Tiap hari jalan jalan di-posting. Dapet duit banyak langsung beli barang mewah di-posting. Selain kepuasan apa lagi sih yang di dapat dari semua hal yang dipamerkan. Kepuasan atas hawa nafsunya terutama. Mereka hanya ingin mendapat pengakuan.

“Saya kaya loh” ,

“saya punya hp baru loh” ,

“saya ganteng loh”,

“saya makan mewah loh” ,

“saya . . . Saya . . . Saya. . . Saya banci loh”. Ehhhh.

Sudah sampai sini saja ya. Makin lama makin ga jelas tulisan saya. Eh emang dasarnya ga jelas sih. Maafkan, salah sendiri kamu maksa saya nulis. Hehehe.

Intinya gini aja sih. Saya jarang posting di Instagram bukan berarti saya mau menghilang dari Instagram. Setiap orang pasti punya titik jenuh kan? Nah saya sedang jenuh akan pengakuan orang lain. Makanya saya jarang posting Instagram. Jika kamu tipe orang yang kalau ingin menanyakan kabar harus lewat perantara postingan saya. Maka saya sarankan, sudah langsung saja. Chat whatssap saya. Kalau masih belum mau juga Ya sudah akan saya beri tahu. Keadaan saya baik Alhamdulillah. Hidup saya masih menyenangkan. Saya jomblo. Tapi saya punya gebetan. Dia kuliah di Semarang katanya taun ini mau wisuda. Doakan ya biar saya dan dia bisa bersama hehe. Tapi tenang, masih ada kesempatan buat kamu untuk dekat dengan saya. Tak usah khawatir, saya orangnya gampang akrab. Pasti orang tuamu suka. Baik kan saya. Tanpa kamu tanya, sudah saya jawab.

Salam Hangat

-Bayu Abi Mulyantara

Catatan : Ada goresan dari sudut pandang lain. Dari penggemar senyum cut beby tsabina yang sudah biasa menjadi obat namun hati tak mau terikat. http://chelseavenda.blogspot.co.id/2018/05/saya-menulis-di-instagram-karena-saya.html?m=1

Fana

Dingin menusuk raga

Menyuruhku memelukmu seketika

Raga lebih membeku

Saat ku tahu pelukanmu hanyalah balasan semu

Kau bilang rindu

Namun pesan dariku slalu kau anggap angin lalu

Kau kata cinta ini seputih kertas

Tapi diriku tak pernah kau jadikan prioritas

Kau lebih dari sekadar apa

Tapi aku bukanlah siapa siapa

Fana

Kau menjelma sebagai alasan

Berhenti menempa diri dengan angan angan

Dan kau menjelma sebagai penyebab

Kenapa mata ini jadi semakin sembab

Puncak dan ego yang membara (last)

Kami melanjutkan perjalanan hingga kami sampai di pos 6 dan memutuskan mendirikan tenda. Lokasi begitu nyaman. Tepat di lembah yang dikelilingi hutan Pinus. Suasana sedikit ramai. Terdengar obrolan pendaki dari jalur pendakian Bambangan. Terlihat pula warung di pos 5 jalur Slamet via Bambangan dari tempat kami mendirikan tenda.

Keesokan harinya tepat pukul setengah 4 pagi. Kami melakukan summits attack. Hanya dengan membawa tas kecil. Perbekalan roti secukupnya dan sebotol air mineral menemani kami sepanjang perjalanan. Di pos 7 kami melaksanakan shalat subuh. Sembari berdoa diberi keselamatan agar sampai di puncak.

Perjalanan mulai terasa sangat berat ketika kami mulai memasuki lereng medan kerikil berbatu. Dengan sudut kemiringan mencapai 60 derajat pendakian ini baru saja di mulai. Terkadang kami perlu merangkak dan berhati hati dalam memijak. Sebab terpeleset adalah keniscayaan. Terjatuh adalah keharusan. Kurang lebih 2 jam kami merangkak dan menjejak. Sampailah kami di puncak. Disini angin begitu kencang. Dingin begitu mengguncang. Jaket pun tak mampu menghangatkan badan. Asap dari kawah meluncur ke arah berlawanan. Membuat puncak itu terasa begitu aman. Kami menikmati keindahan alam. Mengucap syukur pada sang pencipta. Berharap semua ini takkan berakhir begitu saja.

Perjalanan menuju puncak bukanlah hal yang mudah. Butuh perjuangan dan keinginan yang kuat untuk tetap bertahan. Menyerah adalah sebuah pilihan. Namun ego untuk berdiri di puncak mengalahkan semua rasa lelah. Semua itu tak layak dilakukan. Bukan semata tentang keselamatan, namun juga tentang pertimbangan alam dan kesehatan. Puncak tak pernah pergi. Dia tetap tegak berdiri. Kapanpun kau datang, dia akan tetap menyambut tenang. Dan kapanpun kau pulang, dia akan melepas dengan senyum ketenangan.

Lautan awan kembali menjadi saksi. Aku yang masih tegak berdiri, dan kau yang berlari tanpa henti.

Lautan awan kembali menjadi kilasan. Aku yang masih bertahan, dan kau yang memutuskan meninggalkan.

Lautan awan tak lagi terlihat sama. Aku disini sekadar pura, dan kau disana bahagia bersamanya.

Puncak dan ego yang membara 2

Kami memutuskan menerobos hujan. Memakai jas hujan sebagai perlindungan. Melawan hawa dingin yang menusuk di badan. Kami tiba di basecamp dan segera beristirahat. Mengingat besok perjalanan akan begitu sangat berat. Pagi datang menjelang. Diawali mentari yang begitu menghangatkan. Segera kami mempersiapkan diri. Perut terisi, perlengkapan tertata rapi. Kami bergegas melangkahkan kaki.

Perjalanan ini terawali dengan begitu mudah. Menyusuri jalan setapak dan beberapa rumah. Hingga melewati ladang dan masuk ke hutan. Langkah kaki mulai terasa berat ketika jalur mulai menanjak. Nafas kian terengah-engah hingga kamipun seringkali memutuskan beristirahat. Kami sampai di pos 1 setelah menempuh satu jam perjalanan. Perjuangan baru dimulai kali ini. Selepas melewati ladang ilalang. Jalur mulai menanjak penuh. Semak belukar menutupi jalur pendakian. Pos 2 baru terlihat setelah dua jam kami berjalan. Kami beristirahat sejenak. Dan kemudian kembali kami beranjak.

Ditengah perjalanan. Perut kami memberontak. Hingga kami memutuskan untuk memasak. Sederhana sekali. Hanya kupat dengan ikan kemasan. Namun cukup untuk memenuhi rintihan perut kami. Kami kembali bergerak. Mengingat waktu sudah semakin siang. Jalur semakin menanjak, kepala semakin sering menunduk dan mendongak. Menunduk untuk menghindari pohon yang melintang. Dan mendongak untuk meratapi jalur yang akhirnya tak kunjung tampak. Kami sampai di pos 3 dan bergegas menuju mata air. Disana kami berwudhu dan melaksanakan ibadah, karena sudah menunjukan waktu Dzuhur.

Miris sekali. Ketika kebanyakan pendaki yang katanya ingin mendekatkan diri pada sang pencipta malah sering melalaikan ibadahnya ketika mendaki. Setiap langkahmu adalah kebaikan. Selama kamu tetap beribadah selama melangkah. Insyaallah perjalananmu akan berjalan mudah. Ditempat yang baru kamu kunjungi, tuhanmu akan selalu melindungimu. Itupun jika kamu ingat dengan ibadahmu. Disini kami bukan bermaksud menggurui. Jujur saja, khususnya saya. Ilmu agama saya belum sepandai kalian. Namun bagi saya. Jika saya belum mampu menjalankan sunnah. Setidaknya saya tidak melalaikan kewajiban saya. Jangan sampai pendakian membuatmu melalaikan kewajiban.

. . .

Puncak dan ego yang membara (1)

Setiap orang pasti punya karakter bukan? Baik itu positif maupun negatif tergantung pula sudut pandang orang yang melihatnya. Seperti halnya saya. Idealis dan ego selalu menguasai saya. Ketika sudah membuat rencana. Haram hukumnya untuk membatalkan. Sekalipun terbatalkan. Konsekuensinya jelas. Hubungan saya dengan sang pembuat janji rencana tak akan sama lagi. Saya bukanlah tipe seseorang yang pemarah. Saya hanyalah tipe seseorang yang menginginkan action dari apa yang mereka ucapkan.

Gunung Slamet sudah menjadi obsesi saya sejak tahun baru kemarin. Semua persiapan sudah saha lakukan sejak awal. Mulai dari mencari kawan pendakian. Membeli peralatan. Hingga berlatih fisik menjelang hari pendakian. Namun nyatanya halangan demi halangan selalu ada. Mulai dari teman yang ngga jadi ikut. Oke fine. Saya paling benci dengan tipe orang yang jika tidak diajak dia bilang “ga ajak ajak” nah pas diajak dia bilang aku ngga bisa ikut. Bulshit fuck you. Hujan juga semakin sering turun hingga kedua rekan saya ragu untuk meneruskan rencana pendakian. Bahkan hingga h-1 hanya satu rekan saya yang fix siap melakukan pendakian. Sudah saya putuskan. Dan ego saya sangat berperan disini. Hari h pendakian. Harus tetap berangkat. Sekalipun saya berangkat sendiri. Tak peduli dengan rencana bullshit itu.

Untungnya hari esok cuaca cukup bersahabat hingga kami berempat akhirnya siap melakukan pendakian. Kami segera berbenah dan menentukan titik kumpul di rumah salah satu rekan kami. Semua berjalan lancar dan normal hingga di perjalanan kami dihadang hujan badai dan petir. Kami berteduh di sebuah warung dan memutuskan makan sore sekalian. Cuaca tak kunjung bersahabat sore itu. Padahal pagi dan siang tadi cahaya mentari masih cukup terik menyinari.
. . . .

Satu hal pasti. Saya bukan pendaki. Saya hanya menjadikan gunung sebagai wujud saya dalam mencintai negeri ini. Disetiap pendakian selalu tumbuh rasa cinta saya pada negeri ini. Berjalanlah disampingku. Akan ku tunjukkan bagaimana caraku mencintai negeri ini dan mencintaimu.