Fana

Dingin menusuk raga

Menyuruhku memelukmu seketika

Raga lebih membeku

Saat ku tahu pelukanmu hanyalah balasan semu

Kau bilang rindu

Namun pesan dariku slalu kau anggap angin lalu

Kau kata cinta ini seputih kertas

Tapi diriku tak pernah kau jadikan prioritas

Kau lebih dari sekadar apa

Tapi aku bukanlah siapa siapa

Fana

Kau menjelma sebagai alasan

Berhenti menempa diri dengan angan angan

Dan kau menjelma sebagai penyebab

Kenapa mata ini jadi semakin sembab

Iklan

Puncak dan ego yang membara (last)

Kami melanjutkan perjalanan hingga kami sampai di pos 6 dan memutuskan mendirikan tenda. Lokasi begitu nyaman. Tepat di lembah yang dikelilingi hutan Pinus. Suasana sedikit ramai. Terdengar obrolan pendaki dari jalur pendakian Bambangan. Terlihat pula warung di pos 5 jalur Slamet via Bambangan dari tempat kami mendirikan tenda.

Keesokan harinya tepat pukul setengah 4 pagi. Kami melakukan summits attack. Hanya dengan membawa tas kecil. Perbekalan roti secukupnya dan sebotol air mineral menemani kami sepanjang perjalanan. Di pos 7 kami melaksanakan shalat subuh. Sembari berdoa diberi keselamatan agar sampai di puncak.

Perjalanan mulai terasa sangat berat ketika kami mulai memasuki lereng medan kerikil berbatu. Dengan sudut kemiringan mencapai 60 derajat pendakian ini baru saja di mulai. Terkadang kami perlu merangkak dan berhati hati dalam memijak. Sebab terpeleset adalah keniscayaan. Terjatuh adalah keharusan. Kurang lebih 2 jam kami merangkak dan menjejak. Sampailah kami di puncak. Disini angin begitu kencang. Dingin begitu mengguncang. Jaket pun tak mampu menghangatkan badan. Asap dari kawah meluncur ke arah berlawanan. Membuat puncak itu terasa begitu aman. Kami menikmati keindahan alam. Mengucap syukur pada sang pencipta. Berharap semua ini takkan berakhir begitu saja.

Perjalanan menuju puncak bukanlah hal yang mudah. Butuh perjuangan dan keinginan yang kuat untuk tetap bertahan. Menyerah adalah sebuah pilihan. Namun ego untuk berdiri di puncak mengalahkan semua rasa lelah. Semua itu tak layak dilakukan. Bukan semata tentang keselamatan, namun juga tentang pertimbangan alam dan kesehatan. Puncak tak pernah pergi. Dia tetap tegak berdiri. Kapanpun kau datang, dia akan tetap menyambut tenang. Dan kapanpun kau pulang, dia akan melepas dengan senyum ketenangan.

Lautan awan kembali menjadi saksi. Aku yang masih tegak berdiri, dan kau yang berlari tanpa henti.

Lautan awan kembali menjadi kilasan. Aku yang masih bertahan, dan kau yang memutuskan meninggalkan.

Lautan awan tak lagi terlihat sama. Aku disini sekadar pura, dan kau disana bahagia bersamanya.

Puncak dan ego yang membara 2

Kami memutuskan menerobos hujan. Memakai jas hujan sebagai perlindungan. Melawan hawa dingin yang menusuk di badan. Kami tiba di basecamp dan segera beristirahat. Mengingat besok perjalanan akan begitu sangat berat. Pagi datang menjelang. Diawali mentari yang begitu menghangatkan. Segera kami mempersiapkan diri. Perut terisi, perlengkapan tertata rapi. Kami bergegas melangkahkan kaki.

Perjalanan ini terawali dengan begitu mudah. Menyusuri jalan setapak dan beberapa rumah. Hingga melewati ladang dan masuk ke hutan. Langkah kaki mulai terasa berat ketika jalur mulai menanjak. Nafas kian terengah-engah hingga kamipun seringkali memutuskan beristirahat. Kami sampai di pos 1 setelah menempuh satu jam perjalanan. Perjuangan baru dimulai kali ini. Selepas melewati ladang ilalang. Jalur mulai menanjak penuh. Semak belukar menutupi jalur pendakian. Pos 2 baru terlihat setelah dua jam kami berjalan. Kami beristirahat sejenak. Dan kemudian kembali kami beranjak.

Ditengah perjalanan. Perut kami memberontak. Hingga kami memutuskan untuk memasak. Sederhana sekali. Hanya kupat dengan ikan kemasan. Namun cukup untuk memenuhi rintihan perut kami. Kami kembali bergerak. Mengingat waktu sudah semakin siang. Jalur semakin menanjak, kepala semakin sering menunduk dan mendongak. Menunduk untuk menghindari pohon yang melintang. Dan mendongak untuk meratapi jalur yang akhirnya tak kunjung tampak. Kami sampai di pos 3 dan bergegas menuju mata air. Disana kami berwudhu dan melaksanakan ibadah, karena sudah menunjukan waktu Dzuhur.

Miris sekali. Ketika kebanyakan pendaki yang katanya ingin mendekatkan diri pada sang pencipta malah sering melalaikan ibadahnya ketika mendaki. Setiap langkahmu adalah kebaikan. Selama kamu tetap beribadah selama melangkah. Insyaallah perjalananmu akan berjalan mudah. Ditempat yang baru kamu kunjungi, tuhanmu akan selalu melindungimu. Itupun jika kamu ingat dengan ibadahmu. Disini kami bukan bermaksud menggurui. Jujur saja, khususnya saya. Ilmu agama saya belum sepandai kalian. Namun bagi saya. Jika saya belum mampu menjalankan sunnah. Setidaknya saya tidak melalaikan kewajiban saya. Jangan sampai pendakian membuatmu melalaikan kewajiban.

. . .

Puncak dan ego yang membara (1)

Setiap orang pasti punya karakter bukan? Baik itu positif maupun negatif tergantung pula sudut pandang orang yang melihatnya. Seperti halnya saya. Idealis dan ego selalu menguasai saya. Ketika sudah membuat rencana. Haram hukumnya untuk membatalkan. Sekalipun terbatalkan. Konsekuensinya jelas. Hubungan saya dengan sang pembuat janji rencana tak akan sama lagi. Saya bukanlah tipe seseorang yang pemarah. Saya hanyalah tipe seseorang yang menginginkan action dari apa yang mereka ucapkan.

Gunung Slamet sudah menjadi obsesi saya sejak tahun baru kemarin. Semua persiapan sudah saha lakukan sejak awal. Mulai dari mencari kawan pendakian. Membeli peralatan. Hingga berlatih fisik menjelang hari pendakian. Namun nyatanya halangan demi halangan selalu ada. Mulai dari teman yang ngga jadi ikut. Oke fine. Saya paling benci dengan tipe orang yang jika tidak diajak dia bilang “ga ajak ajak” nah pas diajak dia bilang aku ngga bisa ikut. Bulshit fuck you. Hujan juga semakin sering turun hingga kedua rekan saya ragu untuk meneruskan rencana pendakian. Bahkan hingga h-1 hanya satu rekan saya yang fix siap melakukan pendakian. Sudah saya putuskan. Dan ego saya sangat berperan disini. Hari h pendakian. Harus tetap berangkat. Sekalipun saya berangkat sendiri. Tak peduli dengan rencana bullshit itu.

Untungnya hari esok cuaca cukup bersahabat hingga kami berempat akhirnya siap melakukan pendakian. Kami segera berbenah dan menentukan titik kumpul di rumah salah satu rekan kami. Semua berjalan lancar dan normal hingga di perjalanan kami dihadang hujan badai dan petir. Kami berteduh di sebuah warung dan memutuskan makan sore sekalian. Cuaca tak kunjung bersahabat sore itu. Padahal pagi dan siang tadi cahaya mentari masih cukup terik menyinari.
. . . .

Satu hal pasti. Saya bukan pendaki. Saya hanya menjadikan gunung sebagai wujud saya dalam mencintai negeri ini. Disetiap pendakian selalu tumbuh rasa cinta saya pada negeri ini. Berjalanlah disampingku. Akan ku tunjukkan bagaimana caraku mencintai negeri ini dan mencintaimu.

Jangan mudah berasumsi

Hidupku unik. Kau bilang aku mencintaimu padahal tak sekalipun kau mendengar kata itu keluar dari lisanku. Dilain waktu kau bilang aku menjauhimu hanya karena tak sempat aku menjawab pesan singkatmu yang terbunuh kesibukanku. Kau juga bilang aku membencimu hanya karena menolak ajakan jalanmu. Untukmu, berhentilah membuat anggapan. Yang nantinya bisa membuatmu terhunus kenyataan.

Aku menulis sajak kenangan bukan berarti aku belum bisa melupakan. Aku menulis kata cinta bukan berarti aku sedang di mabuk asmara. Manusia jaman sekarang lebih suka menyimpulkan tanpa pernah sekalipun mencoba menanyakan kebenaran. Mencoba mengurai apa yang kurasa dari kata yang dia baca. Memaksaku untuk mengiyakan argumentasi yang dia upayakan.

Barangkali tulisan ini bisa sedikit menggambarkan. Kenapa hidupku penuh dengan tulisan kegalauan. Aku menyukai tulisan tentang percintaan. Kehilangan, kenangan, kegalauan, adalah kata menarik untuk dikembangkan. Bagiku kata-kata adalah keindahan. Mau terlihat menyakitkan ataupun menyenangkan, tetap sama. Semuanya hanya tentang keindahan kata-kata.

Disisi lainnya. Aku punya cinta yang tak pernah ku unggah di sosial media. Aku punya rindu yang tak pernah ku tulis namamu di kolom captionku. Aku punya perasaan yang tak perlu orang lain tau bahwa aku telah benar benar melupakan. Aku tak bermaksud menyembunyikan karena nantinya juga pasti ketahuan. Tapi setidaknya biarlah semua ini menjadi konsumsi pribadi karena sebaik apapun hubungan yang diumbar, pasti ada benih benih benci yang tertebar.

Untuk kesayanganku. Beginilah caraku mencintaimu. Bukan berarti aku tak bangga memilikimu, aku hanya tak ingin memamerkan mu. Jika kau tak menyukai caraku, silahkan mundur dan pergi melangkahkan kaki. Dan sebaliknya jika kau menyukai caraku, kita lanjutkan hubungan ini. Kita ciptakan kebahagiaan kita tanpa pernah terintimidasi anggapan dari orang lain.

Subbab kebahagiaan

Semesta berkuasa

Menyandingkan kita dalam satu perjumpaan

Sebelum kita saling bertegur sapa

Tatapan mata begitu dalam menyiratkan makna

Kita lantas berbincang hangat

Seolah rasa ini sudah terlanjur dalam melekat

Dunia kita lagi lagi berlawanan

Aku dengan kecintaanku pada alam

Kamu dengan kecintaanmu pada kemewahan

Mereka bilang

Manusia diciptakan untuk saling melengkapi

Begitu juga kita

Dengan segala perbedaan dan passion kita

Tercipta untuk saling mengisi dan memahami

Perihal kelanjutan hubungan ini

Jalani saja demikian

Jika nantinya kita dipersatukan

Kuharap kamu menerima segala kekurangan

Dan jika nantinya kita ditakdirkan hanya sebagai teman

Camkan satu hal, mengenalmu adalah salah satu subbab kebahagiaan

-Banyumas, Januari 2018

Karena kita

Karena kita

Karena kita belum benar benar usai

Masih ada secercah rasa yang tersimpan rapi. Menunggu ia meledak ketika kita larut dalam rasa sepi


Karena kita sudah selayaknya saling mengerti

Aku mengerti kamu yang mengerti aku

Dan kamu mengerti aku yang mengerti kamu


Karena kita sudah seharusnya mereda ego

Egoku yang terlalu takut memperjuangkanmu

Dan egomu yang terlalu takut kehilangan diriku


Karena kini telah tiba masanya 

Telah tiba saatnya kita jujur pada perasaan ini

Kamu yang belum bisa melupakan aku seutuhnya

Dan aku yang masih mengharapkanmu sepenuhnya


Cilacap, Januari 2018