Karena kita

Karena kita

Karena kita belum benar benar usai

Masih ada secercah rasa yang tersimpan rapi. Menunggu ia meledak ketika kita larut dalam rasa sepi


Karena kita sudah selayaknya saling mengerti

Aku mengerti kamu yang mengerti aku

Dan kamu mengerti aku yang mengerti kamu


Karena kita sudah seharusnya mereda ego

Egoku yang terlalu takut memperjuangkanmu

Dan egomu yang terlalu takut kehilangan diriku


Karena kini telah tiba masanya 

Telah tiba saatnya kita jujur pada perasaan ini

Kamu yang belum bisa melupakan aku seutuhnya

Dan aku yang masih mengharapkanmu sepenuhnya


Cilacap, Januari 2018

Iklan

Kenapa kita harus seasing ini?

Kita kembali berjumpa. Bukan sebagai dua orang yang saling cinta. Namun hanya sebagai sepasang kawan lama. Segalanya telah berubah.  Kau datang dengan senyum tanpa beban. Sedang aku datang dengan kerinduan dan sebaris kenangan. 

Satu hal yang kupertanyakan. Mengapa kita kini seolah menjadi saling tak mengenal? Menjadi pribadi asing diantara kata kita. Merasa canggung untuk mengawali perkataan. Hingga akhirnya dua jam kita membisu tanpa sekalipun ada pembicaraan.

Kau tak sepenuhnya salah. Salahkan saja diriku. Semua ini takkan terjadi jika aku tak membuka hati padamu. Semua ini takkan terjadi jika aku tak melepasmu kala itu. Dan semua ini takkan menjadi nyata, jika aku tak terlampau jauh dalam menggunakan kata cinta. 

Hidup memang demikian. Di setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Adanya perpisahan tak kan menutup kemungkinan perjumpaan selanjutnya. Dan kini kita kembali bertemu. Bukan lagi tentang kita. Melainkan tentang aku dan kamu yang baru. Dengan segala kecanggungan dan kekakuan diantara kita, aku tak perlu menyesalinya. Karena kini kita tak lebih dari dua orang asing yang kembali semesta pertemukan dengan sejuta kenangan.
Desember, 2017


Maaf

Untukmu yang nyaris kuperjuangkan

Sudahi saja

Simpan baik baik rasa sayangmu

Semoga kau lekas menjumpai

Sosok terindah yang akan mewarnai

Tak bisa dipungkiri

Tak perlu disesali

Sekuat apapun kau mengelak

Semua akan tertuju pada kenyataan

Kita sama sama meragu

Aku dengan rasaku, kau dengan cintaku

Jangan sia siakan waktu untuk menyayangiku

Kau berhak bahagia, begitu pula aku 

Pantas untuk ditinggalkan


Cilacap, Januari 2018

Desember

Desember segera berakhir. Tahun yang begitu luar biasa akan segera berganti. Ego memang selalu mengganjalku untuk bersyukur atas segala yang Engkau limpahkan padaku. Namun didalam hatiku yang terdalam, sungguh aku sangat berterima kasih padamu ya Allah. Engkau begitu baik melancarkan perjalanan hambamu. Meski hambamu ini begitu jauh dari kata sempurna. 

Berbagai tahap telah terlewati di tahun yang penuh warna ini. Begitu cepat usai meski terasa baru kemarin kita mengawali tahun ini dengan sejuta tanya. Bersyukur. Lagi lagi aku tertampar dengan kata itu. Allah telah memudahkan jalanku. Allah telah melancarkan segala rencana ku. Segala yang ku tanam sekarang mulai ku tuai. Tapi tetap, Allah masih saja membolak-balik hati ini. Hanya untuk mengucap syukur terkadang aku masih enggan. Merasakan keberadaannya saja aku masih ragu. Meyakini janji-Nya saja aku masih juga tak sepenuhnya percaya. 

Kurang apa coba? Kurang baik apa. Aku bahkan hari ini ataupun besok masih menikmati kehangatan rumah. Berbeda dengan mereka teman teman baikku. Ketika melihat mereka yang memulai perjalanan menuju kantornya, aku tertampar sekali lagi. Mereka sudah harus berpisah lagi dengan kehangatan rumah. Sedang aku disini masih bisa menikmati masakan ibu yang selalu disisipi doa dan cinta. 

Aku bukanlah seseorang yang bisa terang terangan mengucap syukur. Aku adalah aku. Dengan sejuta ego yang menaungiku. Aku bukanlah seseorang yang bisa seketika bersujud mengucap syukur pada-Nya. Tapi tak pernah lupa sehabis ibadahku, selalu kupanjatkan rasa syukur ku pada-Nya.

Mengabdi pada negara adalah suatu kehormatan. Dimana pun kita ditempatkan tak bisa dijadikan alasan seberapa ikhlas kita melakukan pelayanan. Tapi bolehkah kuminta satu hal? Tempatkan aku didekat kedua orang tuaku berada, karena aku tak ingin meninggalkannya lebih jauh untuk kedua kalinya. 

Awal sebuah akhir

Semua belum berakhir . 

Perihal pelarian yang kukira telah usai, mengakhirkan sesuatu yang semestinya belum berakhir sama saja mempersulit diri. Kisah yang harusnya tertinggal di berbagai tempat pelarian. Ternyata dengan mudahnya menempel lagi menemaniku selama perjalanan. Padahal 2 bulan lalu gunung Prau sudah kujadikan pelarian terakhir, namun hingga perjalananku ke gunung andong kemarin, ingatan tentangmu belum mampu ku buang seutuhnya.

Semua belum berakhir . . 

Perihal pencarian ku akan sosok pengganti, mencari yang seperti dirimu sangatlah sulit. Berkali kali kupaksakan menyamakannya dengan dirimu hingga akhirnya berujung rasa sakit. Sungguh. Bukan ini yang ku mau. Mungkin memang sudah seharusnya aku menerima yang baru. Tak harus sama dengan dirimu. Setidaknya jangan sampai dia menyakitiku seperti yang kau lakukan waktu itu. 

Semua belum berakhir . . .

Setelah kehilanganmu, perasaanku belumlah mati. Masih banyak yang bisa kuperbuat untuk menyenangkan diri. Tak harus dengan materi. Tak juga dengan dicintai. Sungguh aku masih bisa bahagia dengan luka dan duka yang telah kau beri.

Semua belum berakhir . . . .

Perjalanan ini baru dimulai. Cinta yang kukejar takkan pernah usai. Denganmu ataupun yang lain. Dan malam ini. Magelang adalah saksi. Bagaimana aku mengubah pelarian ku menjadi sebuah perjalanan. Karena aku telah ada di jalur yang benar tanpa perlu berlari lagi. Kukejar semuanya dengan perlahan. Karena jujur, ambisiku akan dirimu sedikit demi dikit telah menghilang. Seperti yang kubilang. Disetiap perjalanan pasti selalu diiringi dengan kisah. Dan disini. Tempat ini mengajarkanku bahwa. Magelang,  segala cinta dan luka yang telah lalu, tak akan mungkin kembali terulang. 
Magelang, 31/10/17

Perlahan

Kau tahu? Menjadikan dirimu sebagai objek tulisan bukanlah hal yang mudah. Mengubah rasa kehilangan dalam sebuah sajak semakin membuatku sulit tuk mengikhlaskan. Banyak kenangan yang belum mampu kurelakan yang berujung pada beban yang tak kunjung reda. 

Lantas aku harus gimana? Mendatangimu dan berkata “aku masih sayang kamu” atau mengirimimu pesan sebatas “hay apa kabarmu?”. Maaf. Aku tak selemah itu. Masih ada rasa kecewa yang belum hilang. Atas kepergianmu yang tiba tiba tanpa menyelipkan satupun alasan. 

Bagaimana denganmu? Belum mampukah kau memberiku alasan. Apakah setahun tak cukup hanya sekadar menuliskan “maaf kamu terlalu baik untukku?”. Atau sekadar pamer kemesraan dengan gebetanmu yang baru. Sudahlah kau selalu membuatku merasa bersalah. Padahal kesalahanku padamu hanyalah satu, aku melepasmu saat kau sedang cinta cintanya, dan kau melepasku disaat aku mulai menjadikanmu semesta. 

Tapi tenanglah. Kau tak perlu lagi memberiku alasan. Karena aku akhirnya mulai mengikhlaskan. Aku sudah mulai membuka hati meskipun secara perlahan. Karena separuh ingatan  tentangmu, belum sempat untuk kulupakan. Ketahuilah, kini aku tak lagi menyukai kopi. Kopi dan kau adalah kesatuan yang pernah ku upayakan. Perihal kedai kopi dan janji masa depan yang dulu kau ucap. Sudah, lupakan. Aku telah menggantinya dengan secangkir susu karena semenjak kepergian mu, kopiku tak lagi sepahit dahulu. 

Percayalah, kalsium lebih menyehatkan dibanding kafein apalagi nikotin–“

Kesimpulannya?

Berbahagialah. Terutama untukmu yang tak lagi kumiliki. Dulu aku selalu mendoakan agar kau selalu bahagia. Namun perihal dengan siapa kau akan bahagia, aku lupa. Aku lupa menitipkan namaku pada sang pencipta. Hingga akhirnya Tuhan membuatmu bahagia dengan perantaranya. Dan yang kutahu perantara itu bukan lagi tertulis namaku.

Tersenyumlah. Hati yang larut dalam duka. Mengikhlaskan kepergian mu bukanlah hal yang mudah. Semakin aku memaksa melupakan. Semakin dalam luka yang tertancap dalam wujud kenangan. Jadi tersenyumlah. Sambut mereka yang membantu membereskan luka. Buka hati pada mereka yang menyebarkan tawa. Karena diriku sangat pantas untuk berbahagia.

Rayakanlah. Kehilanganku akan sosok dirimu sangat pantas untuk dirayakan. Untuk apa larut dalam kesedihan demi orang yang hanya menjadikanku sebuah pilihan. Dibalik sajak sendu yang selalu kutuliskan, ada bahagia yang sedang kuperjuangkan. Meskipun kehilanganmu sempat menumbuhkan luka. Namun kepergianmu semakin mempermudah untukku kembali tertawa. 

Satu satunya hal yang bisa kubuat hanyalah introspeksi  diri. Untuk apa terlihat bahagia tapi menyakiti diri sendiri. Nyatanya aku memang lebih banyak menyakiti dibanding tersakiti. Lebih banyak mengecewakan dibanding dikecewakan. Ketika aku telah siap untuk mencintai, tapi ilmu baru yang kudapat sangat sulit ku khianati. Keyakinanku tak lagi bisa kusepelekan. Tentang pacaran yang jelas jelas dilarang, dan aku yang belum siap jika harus ke pernikahan. Jadi maaf untukmu yang tak kunjung aku resmikan. Karena demi keyakinanku, aku tak mungkin sanggup untuk melanjutkan.

Wa laa taqrobuz zina innahu kana fahisyah, wa sa’a sabila – Janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk.” (Qs. Al-Israa’ {17}:32